Memelihara keikhlasan

Rumah Anak Yatim – Alloh Swt. Berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatn kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (Qs Al-BAyyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya, “Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembalah Alloh dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.” (Qs Al-‘Araf [7]: 29).

Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Alloh Swt. Dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Alloh Swt. Ditegaskan berulang-ulang di dalam Al-quran.

Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlas (memurnikan keesaan Alloh). Secara fisik surah Al-Ikhlas itu terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

Rasululloh Saw. Bersabda, “Membaca “Qul huwa Allohu ahad’ pahalanya setara dengan membaca sepertiga Alquran.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu ‘Ubaid).

Oleh karena itu, Saja’ Al-Ghanawi RA mengatakan,”Barang siapa membaca ‘Qul huwa Allohu ahad’ tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran seluruhnys.” Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata,”Barangsiapa membaca ‘qul huwa Allohu ahad’ sebelas kali, maka Alloh (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di surga.”

Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata,”Barangsiapa membaca ‘Qul huwa Allohu ahad’ seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Alloh sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka.” Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung kebaikan atau ketaatan kita sendiri?

Menurut Ibn Sina sebagaiman dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharapkan keuntungan). Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

Ketiga, tipe ‘arif (bersyukur atas segala yang diberikan Alloh Swt. Kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe ‘arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Alloh Swt. dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Alloh Swt. Wallohu’alam.

Copyright © Rumah Anak Yatim – Yayasan Sahabat Yatim Indonesia
Yayasan Sahabat Yatim Indonesia located at Jl. Graha Raya Blok M7 No. 17 Kel. Paku Jaya Kec. Serpong Utara, 021- 53126107 , Kota Tangerang Selatan, ID . Reviewed by 6595 Mendukung Program Kami rated: 9.9 / 10