Kebijahan Pemimpin Bangsa

Rumah Anak Yatim – Ada cerita yang tercecer dalam perjalanan hijrah Nabi Muhammad Saw. Dari Makkah ke Madinah. Nabi Saw. Yang dalam perjalanan itu didampingi oleh tiga orang, yaitu Abu Bakar As-Shiddiq, seorang hamba sahaya milik Abu BAkar bernama Amir bin Fuhairah, dan seorang penunjuk jalan yang non-Muslim bernama Abdullah bin Uraiqit, bermaksud membeli bahan makanan kepada seorang wanita tua bernama Ummu Ma’bad.

“Tidak ada apa-apa,” kata Ummu Ma’bad kepada Nabi Saw. Ketika ditanya tentang makanan dan minuman yang dijual. Ummu Ma’bad tidak tahu bahwa orang yang bertanya itu adalah seorang nabi. Nabi Saw. Kemudian melihat seekor kambing betina yang diikat di dekat rumah. Kambing itu kurus.

“Bolehkah saya perah susu kambig itu?” Tanya Nabi Saw. Kepada Ummu Ma’bad. “Ya, boro-boro ada susunya, dia sendiri kurus seperti itu,”jawab Ummu Ma’bad. Nabi Saw. Kemudian mendesak lagi,”Tapi, bolehkah saya memerah susunya?” Ummu Ma’bad menjawab,”Silahkan saja.”

Setelah mendapat izin, Nabi Saw. Pun berjalan menuju kambing tersebut. Dipegangnya kambing itu seraya berdo’a,”Wahai , Alloh, berkahilah wanita ini melalui kambingnya.” Nabi Saw. Kemudian memerah susu kambing tersebut dan ternyata air susunya keluar dengan deras.

Nabi Muhammad Saw. Lantas minta disediakan cawan-cawan untuk menampung air susu itu. Satu cawan diberikan kepada Ummu Ma’bad. Kemudian, NAbi Saw. Menyuruhnya untuk minum, Ummu Ma’bad pun meminum susu kambing itu. Lalu Abu Bakar dipersilakan untuk minum, selanjutnya Amir bin Fuhairah dan Abdullah bin Uraiqib.

Setelah semuanya minum air susu itu dengan puas, barulah Nabi Saw. Meminumnya, kemudian beliau berkata,”Pemimpin bangsa adalah pelayan mereka dan orang yang memberikan minum kepada mereka. Pemimpin bangsa adalah orang yang minum paling akhir.”

Kisah ini sungguh sangat menarik untuk dijadikan pedoman kebijakan seorang pemimpin bangsa. Nabi Saw. Tidak mendahulukan kepentingan sendiri, keluarga, ataupun golongannya. Beliau mendahullukan kepentingan orang lain kendati tidak dikenal seperti Ummu Ma’bad atau berbeda agama seperti Abdullah bin Uraiqib.

Siapa pun yang menjadi pemimpin seyogyanya menjadikan perilaku Nabi Saw. Ini sebagai panduan dalam mengeluarkan kebijakan. Ia boleh makan enak; ia juga boleh tidur nyenyak apabila rakyatnya semua sudah memiliki rumah dan dapat tidur nyenyak. Dari perilaku Nabi Saw. Ini, para ulama kemudian membuat kaidah hukum Islam yang berbunyi,”Kebijakan seorang pemimpin harus berkaitan dengan kepentingan umat.”

Copyright © Rumah Anak Yatim – Yayasan Sahabat Yatim Indonesia
Yayasan Sahabat Yatim Indonesia located at Jl. Graha Raya Blok M7 No. 17 Kel. Paku Jaya Kec. Serpong Utara, 021- 53126107 , Kota Tangerang Selatan, ID . Reviewed by 6595 Mendukung Program Kami rated: 9.9 / 10