Ajari Anak Menghargai Diri

Rumah Anak Yatim – Mungkin kita sering melihat atau pernah mengalami saat anak kita pulang sekolah atau sepulang bermain dalam keadaan menanggis, mungkin karena berantem sama temannya atau sedang marahan dengan temannya. Janganlah kita langsung menginterogasi anak kita, agar si anak bisa reda dari rasa sedih dan kecewanya.

Menurut psikolog anak dari Lembaga Psikologi Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, tindakan seperti itu merupakan bagian dari pembentukan self esteem atau penghargaan terhadap diri dalam rangka membangun kepercayaan diri. Pembentukan self esteem bergantung pada pola tumbuh-kembang yang ditanamkan oleh orang tua.

Menurut Kasandra, dalam pembentukan self esteem, seorang anak harus dibekali empat hal. Pertama, self awareness, yaitu bagaimana anak menyadari siapa dirinya. Tahapan ini biasanya dilewati pada masa balita. Dalam tahap self awareness, peran orang tua adalah menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai.

Bekal kedua adalah self concept atau konsep diri. Dalam pembekalan konsep diri, seorang anak akan sangat dipengaruhi oleh citra orang-orang di sekitarnya. Karena itu, dalam tahap ini, seorang anak diajarkan menghadapi kenyataan, bagaimana penilaian orang terhadap dirinya. Teradang citra yang dibentuk orang tua di rumah berbeda dengan penilaian orang di luar.

Dalam pembentukan konsep diri ini, seorang anak biasanya mulai belajar membanding-bandingkan. Karena itu, mulai ajarkan anak kita mana yang baik dan mana yang buruk.

Pada tahap ini anak juga mulai dibekali nilai-nilai budaya yang ada di sekitarnya. Tidak heran bila ada anak yang langsung protes ketika ada ajaran yang berbeda antara yang diajarkan di rumah dan di sekolahnya. Pada tahapan ini, orang tua sudah mulai berhati-hati soal adanya diskriminasi budaya yang mungkin terbentuk di sekitar anak.

Dalam tahap konsep diri inilah nantinya terbentuk interpretasi diri. Artinya, anak akan memiliki ketegasan sendiri terhadap dirinya meski banyak faktor yang sudah diajarkan sebelumnya.

Pembekalan ketiga adalah identifikasi dan diferensiasi. Artinya, orang tua harus sadar akan tindakan yang pernah dilakukannya. Sebab, pada tahap ini, anak mengidentifikasi apa yang dilakukan orang tuanya. Orang tua harus bisa membentuk garis tegas bahwa anak berbeda dengan dirinya.

Misalnya, ibu dengan anak lelakinya. Beri pengertian bahwa ibu adalah perempuan yang dapat melakukan hal tertentu, sedangkan anak laki-laki belum tentu dapat melakukan apa yang dilakukan ibu, begitu pula sebaliknya. Contoh kecilnya, anak laki-laki tidak memakai sepatu hak tinggi.

Setelah semua ketiga bekal itu diberikan, baru orang tua memberikan bekal keempat, yaitu self advocacy dan self skill (keterampilan diri). Anak diajarkan untuk memiliki kemampuan tertentu sebagai bekal kehidupan, misalnya kemampuan berbahasa, bela diri, dan sebagainya. Jika keempat bekal sudah diberikan, dalam diri anak akan terbentuk self esteem.

Jika self esteem sudah terbentuk, dalam diri anak akan terbentuk self power dalam bertindak dan berpikir. Meski begitu, konsep pembekalan psikologi tidak selamanya berlaku mutlak. Terkadang ada anak yang tidak memiliki tahap pembekalan yang baik, namun tetap memiliki self power yang baik.

Copyright © Rumah Anak Yatim – Yayasan Sahabat Yatim Indonesia
Yayasan Sahabat Yatim Indonesia located at Jl. Graha Raya Blok M7 No. 17 Kel. Paku Jaya Kec. Serpong Utara, 021- 53126107 , Kota Tangerang Selatan, ID . Reviewed by 6595 Mendukung Program Kami rated: 9.9 / 10